Pranoto Berbicara, Halaman Dua


 
UNTUK KOMUNITAS:

 =================

 CHRIS: Anda pikir bisa jadi terlalu banyak
 ikan di dalam kolam atau seniman itu tidak
 saling berkompetisi malah saling
 mendorong?
 PRANOTO: Keduanya benar tapi sebagai
 manusia kita perlu bermasyarakat. Apabila
 seseorang ingin menjadi aktor/aktris yang
 kreatif, harus pergi ke Hollywood. Tapi mereka
 juga harus diperingatkan bahwa disana ada
 banyak sekali aktor/aktris atau sutradara film
 yang langsung dari sekolah film akhirnya jadi
 ke tempat sampah. Saya pikir itu baik kalau
 seniman saling membantu, kemudian mereka
 bisa menentukan jalannya sendiri.

 Bagaimana bagusnya seseorang, tergantung
 pada bagaimana orang itu mampu
 membandingkan dirinya dengan kenyataan
 seni di sekitarnya. Bisa menilai kemampuan
 dirinya dengan apa yang telah dilakukan oleh
 orang lain. Tapi apabila dia hidup di atas
 gunung tanpa ada seniman lainnya, itu sulit.
 Dalam komunitas seni, seorang seniman perlu
 melihat kegiatan seniman lainnya.
 



Balinese Masks, 1980
Oil on canvas, 65 x 50 cm

 

White Fish, 1984
 Oil on canvas, 40 x 50cm


 


 CHRIS: Di Ubud ada banyak
 seniman- seniman asing dari
 Paris, Spanyol, New York dsb
 yang tertarik dengan Ubud
 sebagai sebuah komunitas seni.
 Anda setuju?

 PRANOTO: Ya. Ada banyak
 seniman di Ubud. Itulah sebabnya
 saya datang ke Bali. Saya tahu dari
 buku Koleksi Seni Soekarno yang
 saya lihat di Solo, bahwa
 ada banyak pelukis Indonesia dan
 asing yang tinggal di Ubud. Juga
 masih banyak air segar disini.
 Tempat yang baik untuk
 memancing, berenang, bekerja dan
 bermain.

 Di Solo, saya belum pernah melukis
 dengan menggunakan model
 telanjang.
 Kadang-kadang saya menggambar
 dari imajinasi saya atau dengan diri
 saya sendiri sebagai model. Di Ubud
 kita beruntung ada banyak orang
 yang menawarkan dirinya untuk
 dijadikan model; dan juga
 masyarakat di Ubud
 sudah bisa menerimanya.

 

CHRIS: Komunitas Seni di Bali adalah campuran antara seniman asing, seniman
Jawa dan seniman Bali sendiri. Ada berapa banyak seniman Bali dalam
komunitas ini?

PRANOTO: Saya pikir sekitar 60 sampai 70% dari komunitas ini adalah seniman Bali.  


 CHRIS: Apa alasan utama mengapa
 komunitas seni ini penting untuk anda
 sebagai seorang seniman?
 PRANOTO: Kalau seseorang berada dalam
 sebuah komunitas, dia akan merasa aman.
 Di dalam komunitas kita bisa bertukar
 pengalaman, yang manis maupun yang pahit.
 Kalau ada masalah, bisa dirundingkan bersama.
 Di dalam komunitas juga perlu ada pelanggan
 dan kritikus yang semuanya itu bisa
 menguntungkan. Sebenarnya saya tidak
 termasuk dalam Komunitas seni yang formal.
 Saya bukan anggota Asosiasi seni, sejenis
 komunitas yang saya tidak suka. Sebagai
 seniman kami hanya berada dalam komunitas
 yang tidak resmi, dimana semua orang bebas
 untuk melakukan apa yang diinginkan.
 



Tenganan Pageringsingan, 1994
Oil on canvas, 150 x 300 cm




Nyoman Sadra, Stone Carver, 1979
Oil on canvas, 140 x 130 cm

 

 CHRIS: Tapi dalam situasi anda, anda
 mudah menampung orang dan sebenarnya
 anda melakukan sesuatu untuk orang lain.
 PRANOTO: Pada masa awal saya di Bali,
 banyak seniman lain yang membantu saya,
 baik dengan uang maupun dengan
 pengetahuan. Kami berbagi apa yang ada,
 termasuk teman-teman pematung saya.
 Maka, apabila mampu, kapan saja saya bisa
 membantu mereka. Ini bukan berarti saya
 harus membantu. Apabila saya tidak bisa,
 yah tidak apa-apa. Dalam ide bantu-membantu
 ini, untuk seseorang bisa mencapai tujuannya,
 suatu waktu dia akan perlu dibantu dan
 membantu kehidupan artis lainnya juga.

 

   Top                                             Back            Next