Halaman Delapan- Affandi Berbicara
|
================================ CHRIS:
Apakah seorang seniman harus CHRIS:
Kalau anda merasa dekat dengan |
|
Waktu saya masih muda,
saya belajar melukis batik di sekolah. Tapi waktu belajar melukis batik,
saya jual murah. Ini berbeda dengan karya seni, dimana saya bisa bilang nilai
karya seni yang baik
adalah dari nol sampai tidak terbatas. Ini karena lukisan batik itu adalah
kerajinan tangan.
Untuk kerajinan tangan tidak ada harga sensasi. Banyak orang mau tahu harga
lukisan saya.
Tidak ada harga yang tercantum dalam benak saya. Itu hanya karangan saja mulai
dari nol
sampai tidak ada batasnya. Benar itu.
POKOK PERSOALAN TELANJANG DAN PENDERITAAN:
==========================================
CHRIS:
Bagaimana lukisan model telanjang ini terjadi?
AFFANDI: Lukisan ini tidak akan saya pamerkan. Saya buat ini untuk saya sendiri.
Kejadiannya begini. Waktu saya di Bangkok, Thailand, saya melihat banyak tentara
Amerika yang sedang bertempur di perang Korea. Sekali seminggu, waktu bebas
mereka pergi ke bioskop. Saya melihat seorang Afrika-Amerika dengan dua orang
gadis
Thai masuk ke bioskop. Saya penasaran seperti apa, waktu dia tidur dengan salah
satu dari mereka.
Seorang gadis kecil dengan seorang raksasa hitam. Dari ide itu saya membuat
lukisan ini.
Mungkin terlalu kasar untuk laki-laki atau gadis itu, tapi untuk saya, saya
harus mengekspresikan
perasaan saya.
CHRIS:
Beberapa lukisan mempunyai tema moral, salah satunya yang anda
namakan
‘The Suffering Bamboo’.
AFFANDI: Ya, dan juga ‘The Suffering Rice Field’. Beberapa minggu yang lalu saya
melukis
beberapa bambu yang menderita. Kami sedang dalam periode kekeringan, hanya
mendapat sedikit hujan.
Udaranya panas sekali dan air sangat sulit. Jadi, waktu saya sedang mencari
objek, saya melihat
serumpun pohon bambu di desa. Saya merasa tersentuh. Pohonnya kering sekali dan
tidak berdaun.
Tidak satupun ada daun disana. Kelihatan kosong hanya batang-batang bambu.
Batang-batangnya
sekalipun sudah tidak hijau lagi. Saya tersentuh dengan penderitaan pohon bambu
itu.
SENI DAN AGAMA:
===============
CHRIS:
Anda pikir, apakah panggilan seni itu sama seperti panggilan
agama?
AFFANDI: Kalau anda pikirkan, seni yang berhubungan dengan agama adalah seni
tradisional.
Bukan artinya jelek. Seni Borobudur contohnya, dibuat oleh banyak seniman.
Ini adalah karya seni kolektif. Jaman sekarang, sangat sulit untuk menemukan
karya kolektif
yang indah seperti itu. Namun seni modern telah berkembang bukan ke arah agama
tapi ke arah
‘Seni Individu’.
|
Sudah tentu dari mula
sampai sekarang saya selalu |
|
Saya mencoba untuk
berkonsentrasi berada bersama Tuhan. Kalau saya berpikir tentang
Tuhan, pikiran saya akan beralih ke seni. Saya pikirkan tentang keindahan objek dalam
dunia
Ketuhanan yang bisa dilukis. Jadi normal kalau saya berpikir tentang Tuhan, saya juga
berpikir
tentang seni.
Saya rasa ini adalah salah satu kegagalan yang menyebabkan saya tidak bisa
menjadi seorang
Haji yang baik. Saya berusaha keras untuk berkonsentrasi kepada Tuhan, tapi tidak
bisa.
Sudah terlalu
lama dalam dunia seni dari tahun 1936 sampai sekarang lebih dari 50 tahun.
Sudah
terlalu lama dalam dunia seni untuk menjadi murni beragama hanya dalam beberapa
hari saja! Maka,
saya sangat kecewa dengan kurangnya konsentrasi saya. Apabila dari mula
saya lebih beragama
dengan seni, mungkin kenyataannya akan lain.
CHRIS:
Bagaimana perasaan anda tentang seni sebagai pengalaman keagamaan
untuk
batin dan pikiran, atau untuk mata saja?
AFFANDI: Bagi saya sebenarnya seni itu hanya untuk hati saya saja, perasaan
saya tentunya.
==========================================
Top
Back Next- Donald Friend