Halaman Delapan- Affandi Berbicara


 
SENIMAN DAN PENJUALAN
 KARYANYA:

 ================================

 CHRIS: Apakah seorang seniman harus
 menyimpan karyanya untuk museumnya
 sendiri, atau apakah dia perlu menjual,
 walaupun lukisan kesayangannya?

 AFFANDI: Ya, itu benar. Kadang-kadang saya
 menjual lukisan yang saya suka. Ya, waktu
 menerima uangnya, oke.
 Saya berikan kepada istri saya dan dia membeli
 makanan. Tapi makanan itu hanya bisa bertahan
 beberapa hari.
 Sesudah itu saya melihat dinding dimana lukisan
 itu dulu digantung. Saya melihat bidang kosong
 dan membayangkan lukisan yang sudah tidak
 ada lagi.
 Kadang-kadang saya suka melukis objek itu
 lagi untuk mengisi kekosongan itu. Gelisah untuk
 melukis lagi karena merasa bingung sepertinya
 saya belum pernah melukis lukisan yang sudah
 terjual itu. 

 CHRIS: Kalau anda merasa dekat dengan
 sebuah lukisan anda, bisakah anda memasang
 tanda ‘not for sale’ atau menaikkan harganya?
 AFFANDI: Saya rasa bisa. Pikiran saya begini,
 kalau saya disembuhkan oleh seorang dokter,
 sebagai rasa terima kasih, saya memberikan dia
 sebuah lukisan. Persoalannya bukan nilai
 lukisannya, tapi nyawa saya. Bagi saya lukisan
 itu bisa bernilai sejuta dolar hanya karena nyawa
 saya bernilai sejuta dolar dan saya masih mau
 hidup lebih lama.
 



Pria Bali Dengan Pakaian Adat,
1973,
 Cat minyak diatas kanvas

Dia seorang Kolektor, maka
dilengkapi dengan latar belakang
koleksi lukisannya.



 

Waktu saya masih muda, saya belajar melukis batik di sekolah. Tapi waktu belajar melukis batik, saya jual murah. Ini berbeda dengan karya seni, dimana saya bisa bilang nilai karya seni yang baik adalah dari nol sampai tidak terbatas. Ini karena lukisan batik itu adalah kerajinan tangan.
Untuk kerajinan tangan tidak ada harga sensasi. Banyak orang mau tahu harga lukisan saya.
Tidak ada harga yang tercantum dalam benak saya. Itu hanya karangan saja mulai dari nol
sampai tidak ada batasnya. Benar itu.

POKOK PERSOALAN TELANJANG DAN PENDERITAAN:

==========================================

CHRIS: Bagaimana lukisan model telanjang ini terjadi?
AFFANDI: Lukisan ini tidak akan saya pamerkan. Saya buat ini untuk saya sendiri.
Kejadiannya begini. Waktu saya di Bangkok, Thailand, saya melihat banyak tentara
Amerika yang sedang bertempur di perang Korea. Sekali seminggu, waktu bebas
mereka pergi ke bioskop. Saya melihat seorang Afrika-Amerika dengan dua orang gadis
Thai masuk ke bioskop. Saya penasaran seperti apa, waktu dia tidur dengan salah satu dari mereka.
Seorang gadis kecil dengan seorang raksasa hitam. Dari ide itu saya membuat lukisan ini.
Mungkin terlalu kasar untuk laki-laki atau gadis itu, tapi untuk saya, saya harus mengekspresikan perasaan saya.

CHRIS: Beberapa lukisan mempunyai tema moral, salah satunya yang anda namakan
‘The Suffering Bamboo’.

AFFANDI: Ya, dan juga ‘The Suffering Rice Field’. Beberapa minggu yang lalu saya melukis
beberapa bambu yang menderita. Kami sedang dalam periode kekeringan, hanya mendapat sedikit hujan.
Udaranya panas sekali dan air sangat sulit. Jadi, waktu saya sedang mencari objek, saya melihat serumpun pohon bambu di desa. Saya merasa tersentuh. Pohonnya kering sekali dan tidak berdaun.
Tidak satupun ada daun disana. Kelihatan kosong hanya batang-batang bambu. Batang-batangnya sekalipun sudah tidak hijau lagi. Saya tersentuh dengan penderitaan pohon bambu itu. 

SENI DAN AGAMA:

===============

CHRIS: Anda pikir, apakah panggilan seni itu sama seperti panggilan agama?
AFFANDI: Kalau anda pikirkan, seni yang berhubungan dengan agama adalah seni tradisional.
Bukan artinya jelek. Seni Borobudur contohnya, dibuat oleh banyak seniman.
Ini adalah karya seni kolektif. Jaman sekarang, sangat sulit untuk menemukan karya kolektif 
yang indah seperti itu. Namun seni modern telah berkembang bukan ke arah agama tapi ke arah ‘Seni Individu’.


 CHRIS:
Bagaimana dengan pengaruh agama
 pada hari tua anda?

 AFFANDI: Sejalan dengan lewatnya waktu
 dan semakin saya tua, makin sering saya berpikir
 tentang agama. Baru saja, kira-kira 3 tahun yang
 lalu, saya merencanakan untuk naik haji.
 Sebelum berangkat ke Mekah saya harus
 mendapatkan visa ke Mekah; maka saya pergi ke
 kedutaan besar Arab Saudi di Jakarta.
 Saya bertemu dengan duta besarnya.
 Saya bilang  “Sekarang saya sudah tua,
 saya mau mendalami agama karena saya tidak
 tahu berapa lama lagi saya akan hidup.”
 Duta besar itu bilang kepada saya “Affandi, anda
 seorang yang beragama, tapi tidak fanatik.
 Menurut pendapat saya, agama itu tidak harus
 Islam atau Kristen atau Hindu. Apabila anda
 melakukan sesuatu yang bisa mengangkat jiwa
 anda secara kerohanian, maka anda sudah
 beragama. Bagaimana memperlakukan sesama,
 semuanya tergantung pada anda sendiri.”

 Sudah tentu dari mula sampai sekarang saya selalu
 mencoba untuk melakukan yang terbaik; hanya
 melakukan yang baik. Mengagumkan, setelah
 memasuki Mekah, saya merasa kuat, lebih muda
 dan bisa bertahan dalam perjalanan panjang,
 termasuk mengelilingi Ka'abah tujuh kali; perasaan
 saya seperti diperbarui.
 



 Tiga Expresi Affandi
1979,
Cat minyak diatas kanvas

Memperlihatkan sisi hehidupanku;
saat aku gembira berwarna kuning
kesedihan berwarna hijau, dan marah
berwarna merah


 

 Saya mencoba untuk berkonsentrasi berada bersama Tuhan. Kalau saya berpikir tentang
 Tuhan, pikiran saya akan beralih ke seni. Saya pikirkan tentang keindahan objek dalam dunia
 Ketuhanan yang bisa dilukis. Jadi normal kalau saya berpikir tentang Tuhan, saya juga berpikir
 tentang seni.
 Saya rasa ini adalah salah satu kegagalan yang menyebabkan saya tidak bisa menjadi seorang
 Haji yang baik. Saya berusaha keras untuk berkonsentrasi kepada Tuhan, tapi tidak bisa.
 Sudah terlalu  lama dalam dunia seni dari tahun 1936 sampai sekarang lebih dari 50 tahun.
 Sudah terlalu lama dalam dunia seni untuk menjadi murni beragama hanya dalam beberapa
 hari saja! Maka, saya sangat kecewa dengan kurangnya konsentrasi saya. Apabila dari mula
 saya lebih beragama  dengan seni, mungkin kenyataannya akan lain. 

 CHRIS: Bagaimana perasaan anda tentang seni sebagai pengalaman keagamaan untuk
 batin dan pikiran, atau untuk mata saja?

 AFFANDI: Bagi saya sebenarnya seni itu hanya untuk hati saya saja, perasaan saya tentunya.

                                            ==========================================

 Top                   Back       Next- Donald Friend